September 10, 2014

Satu waktu, Empat keramat




Ini masih Senja, tetapi mengapa aku masih terhanyut dalam buai Waktu?
Ini masih Jauh, tetapi mengapa aku masih terhempas dalam tiap inchi Jarak?
Ini masih Terang, tetapi mengapa aku masih berlindung di balik Gelap?
Ini masih Putih, tetapi mengapa aku masih saja menjadi Hitam?

Keramat, Sebuah Kalimat?

Aku ingat, 13 Jam lalu, aku masih berada di dalam atmospher putih. percayalah, aku mengingat semua detail waktu itu; Jam dinding menunjuk angka 12.00, udara terasa dingin, hingga kau butuh 2 selimut ganda untuk menjagamu tetap hangat, gelap, dan hitam mulai datang.

Mulanya, aku cukup percaya untuk melawan, namun aku mulai ragu, dimana perisaiku? aku lupa, kemarin lampau, aku kalah. Hitam mengambil semua apa yang ada padaku. Perisai, Senjata, Waktu, hingga mimpi. bila terus begini, aku harus bertindak. tanpa apa-apa?

Cukup! aku harus bertindak, lalu, detik itu juga, aku berlabuh ke dalam Semesta, bersama waktu. kuputar waktu, hingga berada dalam lampau. aku suka masa lalu, dengan begitu, aku bebas melakukan apapun, karena aku tahu apa yang akan terjadi.

Kuputar waktu menuju masa lampau, namun lebih lampau. aku ingin saat dimana semua terjadi; Hitam berada disana, disudut lorong gelap. berdiri menunggu Putih datang dan menyerang. aku ingat, aku menyerang hitam hingga habis, namun, entah darimana hitam muncul lagi dan seterusnya. Hingga saat aku lemah, Hitam mencari titik lemahku dan menyerang. satu hentakan, semua habis. Aku kalah.

Kembali ke situasi awal, aku telah berada dimana aku dulu beradu. dengan bantuan Waktu, semua Memoriandum terganti menjadi apa yang aku inginkan. aku ingin hitam kalah. dan aku menang. terimakasih waktu, terimakasih.

namun Semesta tahu, Ganjaran mempermainkan Waktu selalu menjadi keramat. Semua tunduk kepada waktu. mengapa kau tidak dari awal berkata? aku harus bagaimana ini?

Dalam takut, aku meminta, memohon kepada Semesta. tentu, jawabannya Tidak.

Satu,
Dua,
Tiga,
Empat,

Semua berubah.

0 komentar:

Post a Comment